Penjelasan tentang Sistem Ekonomi Liberal, Karakteristiknya, Keuntungan dan Kelemahannya serta Contoh Negara yang Menganut Sistem tersebut

Penjelasan tentang Sistem Ekonomi Liberal, Karakteristiknya, Keuntungan dan Kelemahannya serta Contoh Negara yang Menganut Sistem tersebut

Apa yang Dimaksud Sistem Ekonomi Liberal?

Sistem ekonomi liberal secara umum diartikan sebagai sistem ekonomi yang mampu memberikan kebebasan pada individu secara tak terhingga untuk melakukan kegiatan ekonomi. 

Kondisi tersebut berlaku untuk setiap individu agar dapat mencari dan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dapat dikatakan pula bahwa setiap individu dapat menentukan arah perekonomiannya sendiri.

Keputusan untuk menentukan arah perekonomiannya ini berada ditangan individu itu sendiri, bukan lagi diatur atau ditentukan oleh pemerintah atau lembaga tertentu. 

Dalam melaksanakan sistem ekonomi ini mengacu pada ekonomi pasar, bahkan sistem ekonomi ini juga sangat menghargai hak-hak yang dimiliki oleh setiap orang.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa sistem ekonomi liberal ini sebagai sistem ekonomi kapitalis. Ini menunjukkan bahwa jika terjadi hal-hal yang bisa merugikan masyarakat, maka pemerintah bisa melakukan campur tangan untuk menangani kerugian tersebut. 

Oleh karena itu, meskipun keputusan perekonomian ada disetiap tangan individu, pemerintah tetap menyediakan fasilitas umum untuk masyarakat.

Karakteristik dari Sistem Ekonomi Liberal

Karakteristik menunjukkan adanya perbedaan antara dua hal, seperti sistem ekonomi liberal ini, kita harus pelajari apakah yang membedakan sistem ekonomi ini dengan sistem ekonomi lainnya yang dianut di negara-negara yang ada di dunia.

a. Alat produksi berhak dimiliki oleh setiap individu, bukan hanya swasta saja.
b. Kegiatan ekonomi dapat dilakukan oleh siapapun, baik swasta, wiraswasta, pedagang kecil, individu, dan lain-lain.
c. Harga produk dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan.
d. Jika ada pihak tertentu yang dirugikan atas tindakan monopoli oleh pihak lain, maka pemerintah campur tangan untuk mengatasinya.
e. Laba dapat diperoleh produsen dengan cara memproduksi produk

Lebih lengkap silahkan baca artikel mengenai ciri dan karakteristik sistem ekonomi liberal.

Apa saja Keuntungan dan Kelemahan Sistem Ekonomi ini?
Setiap sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara, pasti memiliki kelebihan dan kelemahan, tidak terkecuali sistem ekonomi ini. Apa saja kelebihan dan kelemahannya?

Kelebihan
a. Perbedaan kemampuan setiap individu, sehingga tidak ada paksaan.
b. Masyarakat umum mampu mendapatkan kekayaan dan sumber daya produksi.
c. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan.
d. Produksi dari produk sesuai kebutuhan masyarakat.
e. Dapat mengembangkan ide kreatif dan inovatif untuk menghasilkan produk yang berkualitas atau memiliki nilai guna yang tinggi, dan tidak dibatasi pemerintah.

Kelemahan
a. Kemunculan kesenjangan sosial di masyarakat.
b. Tidak meratanya kesejahteraan dan penghasilan.
c. Persaingan yang tidak sehat dan korupsi dapat terjadi.
d. Eksploitasi hasil bumi dan sumber daya manusia semakin besar.

Negara yang Menganut Ekonomi Liberal

Adapun beberapa negara yang menganut sistem ekonomi liberal adalah: Jepang, Afrika Selatan, Mesir, Israel, Senegal, Selandia Baru, India, Irak, Iran, Austria, Britania Raya (Inggris), Ukraina, Turki, Swiss, Australia, Uruguay, Nikaragua, Meksiko, Peru, Panama, Paraguay, Lexemburg, Albani, Hungaria, Veneuzuela, Armenia, Italia, Islandia, Lithuania, Latvia, Kolombia, Moldova, Makedonia, Denmark, Kroasis, Bulgaria, Republik Ceko, Siprus, Korea Selatan, Jerman, Belanda, Slovakia, Spanyol, Swedia, Slovenia, Filipina, Rusia, Serbia Montenegro, Perancis, Norwegia, Finlandia, Portugal, Romania, dan Polandia.

Itulah pemaparan singkat tentang sistem ekonomi liberal. Semoga artikel ini dapat membantu kalian untuk mengetahui tentang apa itu sistem ekonomi liberal, kelebihan dan kelemahan, karakteristiknya, dan negara yang menganut sistem tersebut.
Pengertian Norma Sosial dan 4 Macam Norma Sosial

Pengertian Norma Sosial dan 4 Macam Norma Sosial

Sebagai makhluk sosial, istilah norma sosial pastinya sudah bukan menjadi hal yang asing bagi kita. Banyak dari kita yang mengenal norma sosial ini sebagai peraturan sosial. Ya peraturan sosial itu nama lain dari norma sosial. 

Norma sosial itu diartikan sebagai patokan perilaku yang dilakukan oleh individu dalam kelompok masyarakat. Hal ini berhubungan dengan perilaku yang pantas untuk dilakukan dalam interaksi sosial. Dia bisa juga disebut dengan pelaksanaan dari nilai sosial yang ada di masyarakat.

Norma sosial ini tidak boleh dilanggar karena jika kita langgar maka kita akan menerima hukuman. Oleh karena itu, kita harus menghormati norma sosial yang berlaku di masyarakat kita. Norma sebenarnya merupakan hasil buatan dari manusia. 

Semula dibentuk karena ketidaksengajaan, namun lama kelamaan dibuat secara sadar. Dalam masyarakat, norma ini berisi tentang aturan, tata tertib, dan petunjuk standar perilaku yang harus dilakukan individu secara wajar dan pantas. Norma sosial sendiri ada tingkatannya, apa saja itu?

Baca juga: Hakikat Stratifikasi Sosial

Cara atau usage merupakan cara berbuat yang didasarkan pada sesuatu yang sudah biasa, tentang hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dalam hal ini tidak ada sanksi maupun hukum yang mengikat.

Kebiasaan atau folkways merupakan cara berbuat individu yang dilakukan secara berulang-ulang namun tidak ada sanksi apapun bagi yang melanggar. Individu yang melanggar peraturan ini dinilai sebagai perilaku yang aneh, Namun tidak memiliki nilai moral yang penting.

Tata kelakuan atau mores merupakan norma yang semata-mata tidak bisa dinilai sebagai kebiasaan, namun diterima sebagai norma pengatur. Meskipun demikian, setiap pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan individu akan menerima sanksi dari masyarakat. Tata kelakuan diharapkan mampu membantu individu untuk mencapai ketertiban yang diinginkan masyarakat.

Adat istiadat atau customs merupakan pola kebiasaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Ada sanksi yang diterima jika melanggar adat istiadat yaitu dikucilkan dari pergaulan di masyarakat.

Hukum atau law merupakan aturan yang berlaku dan bersifat baku yang tertulis untuk mengatur tata tertib pergaulan di masyarakat. Hukum ini dipertahankan, dan disepakati oleh masyarakat dan jika dilanggar, maka dikenai sanksi sesuai peraturan yang ada. 

Baca juga: Pengertian Struktur Sosial dan Faktor Pembentuknya

Selanjutnya, selain tingkatan norma sosial, ada juga macam-macam norma sosial. Ada empat macam norma sosial yaitu agama, hukum, kesopanan, dan kebiasaan. Norma hukum merupakan aturan sosial yang dibuat lembaga tertentu, seperti pemerintah. 

Norma agama merupakan peraturan sosial yang tidak dapat ditawar-tawar dan bersifat mutlak karena berasal dari Tuhan. Norma kesopanan merupakan peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan cara individu bertingkah laku secara wajar dalam masyarakat.

Norma kebiasaan merupakan sekumpulan peraturan sosial yang berisi tentang peraturan atau petunjuk yang dibuat secara sadar, bukan perilaku yang diulang-ulang. Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani menghasilkan akhlak, agar individu mampu membedakan yang baik dan buruk. 

Itulah empat macam dari norma sosial yang perlu diketahui. Selain itu, norma sosial juga memiliki beberapa fungsi, yaitu menjaga solidaritas masyarakat, memberikan batasan tentang perintah atau larangan dalam berperilaku, dan memaksa individu untuk menyesuaikan diri dengan norma yang ada di masyarakat. Demikian ini penjelasan tentang norma sosial sampai pada fungsinya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Daftar Pustaka
Soeroso, A. 2006. Sosiologi 1 SMA Kelas X. Bogor: Quadra.
Saptina, S., Nugroho, D., dan M.A. Purwandari. 2008. Cara Mudah Menghadapi Ujian Nasional 2008. Jakarta: Grasindo. 
Mobilitas Sosial

Mobilitas Sosial

Dalam sosiologi selain stratifikasi sosial, kita mengenal dengan yang namanya mobilitas sosial, apa itu mobilitas sosial? Dan apa sajakah jenis-jenis mobilitas sosial? Simak penjelasannya.

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas berasal dari bahasa Latin, yaitu mobilis. Mobilis diartikan sebagai mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Mobilitas dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perpindahan atau gerak. 

Kaitannya dengan konsep stratifikasi sosial maka mobilitas merupakan gerak yang menghasilkan perpindahan tempat. Sedangkan, mobilitas sosial itu diartikan sebagai perpindahan posisi individu atau kelompok dari strata sosial atau lapisan sosial yang satu ke lapisan sosial yang lain. 

Lebih lanjut, perubahan gerak, pergeseran, peningkatan ataupun penurunan status dan peran setiap orang dalam mobilitas sosial tidaklah sama. Selain, mobilitas sosial, dikenal pula dengan mobilitas geografik artinya berpindahnya individu dari satu lokasi ke lokasi yang lain, seperti urbanisasi, emigrasi, dan imigrasi.

Faktor Mobilitas Sosial

Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi mobilitas sosial? Faktor tersebut yaitu sistem ekonomi, perbedaan tingkat kelahiran, dan struktur pekerjaan. Sedangkan, faktor yang mendorong mobilitas sosial yaitu keinginan untuk melihat wilayah lain, keadaan ekonomi, status sosial, dan pertambahan penduduk. 

Pendapat lain menyebutkan faktor penyebab mobilitas sosial yaitu individu, struktural, ekonomi, status sosial, situasi politik, demografi, dan motif keagamaan. 

Baca juga: Konflik Sosial

Jenis - Jenis Mobilitas Sosial 

Adapun jenis-jenis dari mobilitas sosial yaitu mobilitas vertikal, mobilitas horizontal, mobilitas intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi. Apakah yang dimaksud dengan itu semua? Mobilitas vertikal merupakan perpindahan posisi dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial yang lain namun tidak sederajat dan ini terbagi menjadi dua yaitu social climbing dan social sinking.

Mobilitas horizontal merupakan gerak orang perorangan dan kelompok dari suatu posisi ke dalam strata yang sama atau sederajat. Mobilitas antargenerasi yaitu mobilitas yang terjadi diantara dua generasi atau lebih. Sedangkan, mobilitas intergenerasi yaitu mobilitas yang dialami individu dalam masa kehidupannya.

Mobilitas sosial juga dapat dibedakan berdasarkan pada keadaan dari tolok ukur individu dalam lapisan sosial yang berupaya untuk mengubah dirinya yaitu mobilitas yang disponsori dan mobilitas sosial tandingan. 

Mobilitas sosial tandingan bergantung pada usaha dan kemampuan individu, sebab persaingan itu bersifat terbuka sehingga status elite tertentu mungkin akan dapat dicapai oleh seorang individu. 

Sedangkan, mobilitas yang disponsori bergantung pada cara mengkategori dan posisi individu dalam memperoleh pendidikan, keturunan, atau dari kelas sosial yang dinilai memiliki peluang untuk  bergerak. 

Demikian penjelasan tentang pengertian mobilitas sosial dan jenis-jenis mobilitas sosial. Pembahasan selanjutnya akan menjelaskan tentang saluran mobilitas sosial dan dampak dari mobilitas sosial.

Daftar Pustaka
Hasanah, N.N. 2008. Persiapan UN Sosiologi untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Bandung: Grafindo Media Pratama. 
Murdiyatmoko, J. 2008. Sosiologi Memahami dan Mengkaji Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Grafindo Media Pratama. 
Waluya, B. 2007. Sosiologi: Menyelami Feomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: PT Setia Purna Inves.
Saptina, S., Nugroho, D., dan Aris S. 2008. Siap Menghadapi Ujian Nasional SMA/ MA 2009: Sosiologi. Jakarta: Grasindo.
Sosiologi sebagai Ilmu Masyarakat

Sosiologi sebagai Ilmu Masyarakat

Struktur sosial dan stratifikasi sosial merupakan beberapa dari kajian sosiologi. Sebagai bagian dari sosiologi, maka tidak ada salahnya kita mempelajari tentang hakikat sosiologi itu sendiri, dimulai dari definisi dan objek sosiologi.

Sosiologi merupakan studi sistematis yang membahas tentang perilaku sosial individu, cara kerja kelompok sosial, organisasi, kebudayaan, dan masyarakat, dan pengaruhnya terhadap perilaku individu dan kelompok. Objek studi dari sosiologi yaitu masyarakat yang memusatkan kajiannya pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut. 

Masyarakat sebagai objek studi dalam sosiologi menunjuk pada sejumlah manusia yang telah hidup bersama dalam waktu yang lama dan menciptakan berbagai peraturan pergaulan hidup, sehingga membentuk suatu kebudayaan. 

Sosiologi menaruh minat untuk mempelajari tentang perilaku manusia yang ada di dalam masyarakat. Meskipun demikian, sosiolog pada umumnya mempunyai pendekatan yang berbeda-beda untuk melihat objek dalam sosiologi ini. Ada sosiolog yang tertarik untuk membahas tentang perilaku manusia yang menyimpang atau sosiologi kriminal, namun ada juga yang tertarik membahas tentang politik atau sosiologi politik. 

Ada beberapa konsep mendasar yang disepakati oleh sosiolog tentang objek sosiologi, yaitu sebagai berikut: (1) masyarakat mempengaruhi dan membentuk perilaku manusia, dan (2) masyarakat dan social setting lainnya, antara lain nilai dan norma sosial merupakan hasil karya atau produk manusia. 

Setelah mempelajari tentang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, apakah ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Sosiologi dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sebab mengandung unsur sebagai berikut.

1. Sosiologi bersifat teoritis, berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi. Abstraksi merupakan kerangka dari unsur yang diperoleh dari observasi dan disusun secara logis, serta memiliki tujuan untuk menjelaskan tentang hubungan sebab akibat.
2. Sosiologi bersifat empiris, di mana dalam kajian tentang masyarakat didasarkan pada hasil observasi, menggunakan akal sehat, dan tidak spekulatif.
3. Sosiologi bersifat non-etis, bukan mencari baik buruknya suatu fakta, namun menjelaskan tentang fakta secara analitis.
4. Sosiologi bersifat kumulatif, di mana teori sosiologi didasarkan pada teori yang telah ada sebelumnya untuk memperbaiki, memperluas, dan memperhalus teori yang lama.

Berdasarkan penjelasan di atas sosiologi dikatakan sebagai ilmu pengetahuan, dipandang dari empat hal yaitu kumulatif, non-etis, empiris dan teoritis. Kemudian, apa saja metode ilmiah dalam sosiologi? Ada dua macam metode ilmiah dalam sosiologi yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Metode kuantitatif menekankan pada keterangan yang didasarkan pada angka atau gejala yang diukur dengan menggunakan skala, tabel, uji statistik, maupun indeks. Sedangkan, metode kualitatif menekankan pada mendeskripsikan hasil penelitian didasarkan pada penilaian terhadap data yang diperoleh, di mana metode ini digunakan jika data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan menggunakan angka.

Selanjutnya, langkah-langkah dalam penelitian sosiologi yaitu mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah dan menentukan ruang lingkup penelitian, merumuskan hipotesis yang sesuai dengan masalah yang dirumuskan, memilih metode pengumpulan data, mengumpulkan data, menafsirkan data yang diperoleh, dan menarik kesimpulan.

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami tentang sosiologi sebagai ilmu yang dipandang dari empat hal, dan metode yang digunakan dalam metode ilmiah sosiologi. Semoga artikel bermanfaat.

Daftar Pustaka
Maryati, K dan Suryawati, J. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas X KTSP Standar Isi 2006. Jakarta: Erlangga. 
Pengertian Struktur Sosial dan Faktor Pembentuknya

Pengertian Struktur Sosial dan Faktor Pembentuknya

Artikel sebelumnya telah dijelaskan tentang stratifikasi sosial dan konflik sosial, sebelum mempelajari tersebut, alangkah lebih baik, kita belajar dulu apa itu struktur sosial. Ini disebabkan dalam struktur sosial terdapat diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial. Untuk tahu lebih jauh, simak penjelasan di bawah ini.


Pengertian Struktur Sosial

Struktur merujuk pada pola interaksi yang kurang lebih tetap dan mantap, terdiri dari jaringan relasi sosial hierarkis dan pembagian kerja tertentu, ditopang oleh kaidah, peraturan, dan nilai budaya. Dalam sosiologi, “struktur” digunakan untuk semua unsur sosial budaya sehingga menyebabkan ciri itu, dan oleh karena itu, dinamakan dengan “unsur struktural”.

Ralph Linton dalam Murdiyatmoko (2008) menyatakan bahwa struktur sosial mengenal dua konsep yaitu status dan peran. Status diartikan sebagai kumpulan hak dan kewajiban. Sedangkan, peran merupakan tugas yang dikerjakan berdasarkan pada hak dan kewajiban yang merupakan statusnya.

Negara Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk dan multidimensional yang terkotak-kotak secara horizontal maupun vertikal. Adapun faktor yang menyebabkan pengkotaan secara horizontal menghasilkan diferensiasi sosial atau penggolongan sosial. Sedangkan, faktor yang menyebabkan pengkotaan secara vertikal menghasilkan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial. Oleh karena itu, dapat dikatakan suatu struktur mengacu pada hubungan yang terjadi diantara unsur, di mana bagiannya saling tergantung dan membentuk pola tertentu.


Faktor yang Membentuk Ketidaksamaan Sosial

Pilihan menjadi faktor pembentuk dalam diferensiasi sosial. Sedangkan dalam stratifikasi sosial, faktor pembentuknya menurut Soerjono Soekanto dalam Murdiyatmoko (2008) yaitu (1) unsur-unsur sistem stratifikasi terdiri dari distribusi hak-hak istimewa yang objektif, kriteria sistem pertentangan, sistem bertetangga yang diciptakan warga masyarakat, mudah atau sulitnya bertukar kedudukan, dan lambang-lambang kedudukan; dan (2) sistem sosial yang berpokok pada sistem pertentangan di masyarakat.


Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial merupakan proses memperoleh hak dan kewajiban individu di masyarakat yang berbeda satu sama lain, berdasarkan etnis, agama, gender, suku bangsa, dan ras, namun tidak menunjukkan adanya tingkatan yang lebih rendah maupun lebih tinggi. 

Diferensiasi dapat berubah menjadi stratifikasi jika perbedaan hak dan kewajiban digunakan sebagai ukuran dalam rangka memperoleh hak istimewa dalam kekayaan, martabat, dan kekuasaan. Meskipun demikian, tidak semua diferensiasi menjadi stratifikasi sosial sebab di masyarakat terdapat kekuatan yang mendorong penghapusan perbedaan diantara sesama. Lebih lanjut, diferensiasi sosial, dibedakan berdasarkan etnis, agama, gender, suku bangsa, dan ras.

Etnis. Etnis berbeda dengan ras sebab kelompok etnis mengacu pada kelompok sosial yang perbedaannya ada pada kriteria kebudayaan, bukan pada biologis. 

Agama. Agama berisi tentang sekumpulan kepercayaan yang ada dalam ritual yang sama dan dianggap sakral, melebihi kehidupan duniawi, menimbulkan kekaguman dan penghormatan, dan penegasan kepercayaan dengan melaksanakan ritual yaitu aktivitas keagamaan.

Jenis kelamin dan gender. Perbedaan secara gender merupakan cara berperilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh kebudayaan, dan kemudian menjadi bagian dari kepribadiannya. Sedangkan, peran gender merupakan pola sikap dan tingkah laku yang diharapkan masyarakat berdasarkan jenis kelamin yang dibuat oleh masyarakat dan diturunkan oleh satu generasi ke generasi selanjutnya melalui agen sosial.

Suku bangsa. Merupakan golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial yang lain sebab memiliki ciri-ciri yang mendasar (tipe fisik, bahasa daerah, kesenian, dan adat) dan umum berhubungan dengan asal-usul dan tempat asal serta kebudayaan.

Klan. Merupakan kekerabatan dengan cara menarik garis keturunan secara unilateral, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Apabila kelompok kekerabatan menarik garis keturunan dari pihak ibu dinamakan dengan matrilineal, sedangkan jika dari pihak ayah dinamakan dengan patrilineal. 

Ras. Merupakan kategori individu yang diberikan secara turun menurut dan terdapat ciri-ciri fisik dan biologis tertentu yang bersifat khas. Jika menyebutkan satu kelompok ras, ini artinya bukan merujuk pada sifat kebudayaan kelompok, namun ciri fisiknya.  

Demikian penjelasan tentang struktur sosial, yang terbagi menjadi diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial (yang sudah dijelaskan diartikel sebelumnya).

Daftar Pustaka
Murdiyatmoko, J. 2008. Sosiologi Memahami dan Mengkaji Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Grafindo Media Pratama. 
Konflik Sosial

Konflik Sosial

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang hakikat stratifikasi sosial, mulai dari pengertian sampai pada faktor penyebab munculnya stratifikasi sosial. Kali ini, kita akan membahas tentang konflik sosial. Simak penjelasan berikut ini.

Konflik berasal dari bahasa Latin configere, berarti memukul. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan konflik adalah percekcokan, pertentangan, atau perselisihan. Oleh karena itu, konflik merupakan pertentangan, ketidakselarasan antara dua hal atau lebih. 

Secara sosiologis, konflik didefinisikan sebagai proses sosial yang terjadi antara dua orang atau lebih yang berupaya untuk menyingkirkan pihak lain dengan cara membuatnya tidak berdaya atau menghancurkan.

Munculnya konflik karena perbedaan, antara lain kebudayaan, kebutuhan, emosi, kepentingan, atau pola perilaku antar individu atau kelompok yang ada di masyarakat. Perbedaan itu memuncak pada saat sistem sosial masyarakat tidak mampu mengakomodasi perbedaan yang muncul tersebut. 

Meskipun demikian, tidak selamanya konflik diakhiri dengan tindakan kekerasan. Hal ini disebabkan kekerasan tidak sama dengan konflik. Konflik ini merupakan proses sosial yang terus terjadi di masyarakat, baik individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dengan cara menentang lawan. Sedangkan kekerasan yaitu gejala yang timbul sebagai salah satu dampak dari adanya proses sosial yang pada umumnya ditandai perkelahian dan perusakan. 


Sebab - Sebab Konflik Sosial

Penyebab munculnya konflik sosial ini kompleks dan tidak berdiri sendiri, namun dilatarbelakangi oleh beberapa dimensi dan peristiwa, antara lain ekonomi, politik, agama, dan kepentingan lain. Konflik sosial yang muncul biasanya terjadi melalui dua tahap yaitu disorganisasi atau keretakan dan berlanjut ke disintegrasi atau perpecahan. 

Munculnya gejala disorganisasi dan disintegrasi merupakan akibat dari: adanya ketidak sepahaman dari para anggota kelompok terkait tujuan masyarakat yang semula menjadi pedoman bersama, tindakan anggota kelompok yang bertentangan dengan norma kelompok, kaidah kelompok yang dihayati anggotanya bertentangan satu sama lain, norma sosial tidak mampu membantu anggota masyarakat untuk mencapai tujuan yang disepakati, dan sanksi menjadi lemah bahkan tidak dilakukan dengan konsekuen.  Lalu apa akibat yang ditimbulkan dari konflik sosial?


Akibat - Akibat Konflik Sosial

Konflik dapat bermanfaat sebagai faktor positif yang berdampak membangun atau konstruktif dan faktor negatif yang bersifat merusak atau destruktif bagai kedamaian sosial. Dikatakan positif, sebab konflik memiliki fungsi untuk mendorong tumbuh kembangnya modal kedamaian sosial sebab dapat meningkatkan solidaritas yang terjadi diantara anggota kelompok.

Dikatakan negatif karena konflik bersifat destruktif terhadap keutuhan kelompok dan integrasi sosial masyarakat. Apabila melebihi batas toleransi dan kemampuan pihak yang terlibat serta tidak segera dicarikan solusi untuk penyelesaian, konflik dapat menjurus pada disintegrasi sosial. Dengan demikian, akibat-akibat dari konflik yaitu sebagai berikut

Akibat positif dari konflik yaitu (1) sebagai alat perubahan sosial, di mana anggota kelompok yang berseteru menilai dirinya sendiri dan mungkin akan terjadi perubahan yang ada dalam dirinya, (2) meningkatkan solidaritas antara anggota kelompok, (3) perbedaan pendapat yang muncul dalam diskusi ilmiah dapat digunakan untuk melihat kelemahan pendapat sehingga dapat ditemukan pendapat yang lebih kuat sebagai pemecahan masalah, dan (4) memunculkan pribadi yang tahan uji untuk menghadapi tantangan dan permasalahan yang dihadapi.

Akibat negatif dari konflik yaitu (1) kerugian baik harta benda maupun jwa, sebagai akibat dari kekerasan yang ditonjolkan untuk penyelesaiannya, (2) dominasi dan takluknya salah satu pihak ketika kekuatan dari pihak yang bertikai tidak seimbang, (3) perubahan kepribadian individu karena mentalnya tersiksa, dan (4) retaknya persatuan kelompok. Dengan demikian membutuhkan penanganan konflik yang dijelaskan di bagian di bawah ini.


Penanganan Konflik

Ada dua kepentingan utama yang menyebabkan munculnya konflik yaitu kepentingan untuk mencapai tujuan pribadi dan kepentingan untuk memelihara hubungan yang baik dengan orang lain. Dengan demikian, ada lima cara untuk mengatasi konflik, yaitu sebagai berikut.

Menghindar. Tipe ini ditunjukkan dengan mengorbankan tujuan pribadi atau hubungannya dengan orang lain, berusaha menjauhi masalah yang memunculkan konflik. Individu yang menggunakan cara ini meyakini bahwa tidak ada manfaatnya berusaha untuk menyelesaikan konflik. 

Memaksakan kehendak. Individu yang menggunakan cara ini berupaya untuk menguasai lawannya dengan cara memaksa mereka untuk menerima penyelesaian konflik yang diinginkannya. Bagi individu ini, tujuan pribadi dianggap lebih penting dibandingkan hubungan dengan orang lain, sebab tidak peduli dengan kebutuhan orang lain dan tidak peduli apakah orang lain menerima keberadaan dirinya atau tidak.

Individu yang menggunakan cara tersebut menganggap konflik harus diselesaikan dengan cara satu pihak yang menang sedangkan pihak lain yang kalah, karena kemenangan akan memberikan rasa bangga. Sedangkan, kekalahan baginya akan menimbulkan rasa gagal dan perasaan lemah. Kemenangan yang diraih dengan cara menguasai, mengatasi, menyerang dan mengintimidasi orang lain.

Menyesuaikan pada keinginan orang lain. Individu yang menggunakan cara ini menganggap bahwa hubungan dengan orang merupakan hal yang penting dan tujuan pribadi dianggap kurang penting. Individu ini ingin diterima dan disukai oleh orang lain, dan menganggap konflik harus dihindari demi keharmonisan. Individu ini khawatir jika konflik terus terjadi, maka individu lain akan terluka dan menghancurkan hubungan pribadi.

Tawar-menawar. Individu yang menyelesaikan konflik dengan cara ini berusaha memperhatikan tujuan pribadi dan hubungannya dengan orang lain. Jenis penyelesaian konflik ini berusaha mencari penyelesaian masalah yang menempatkan kedua belah pihak memperoleh sesuatu, seolah-olah bertemu ditengah antara mementingkan tujuan pribadi dan mementingkan hubungan dengan orang lain.

Kolaborasi. Jenis penyelesaian konflik ini sangat menghargai tujuan priabadi dan hubungannya dengan orang lain dan menganggap konflik harus diselesaikan. Individu tipe ini melihat konflik untuk meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan yang terjadi diantara kedua belah pihak. 
Demikian penjelasan tentang konflik dan cara penyelesaiannya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Daftar Pustaka
Maryati, K dan Suryawati, J. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Jilid 2. Jakarta: Esis.
Waluya, B. 2007. Sosiologi: Menyelami Feomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: PT Setia Purna Inves.
Hakikat Stratifikasi Sosial

Hakikat Stratifikasi Sosial

Artikel kali ini akan memberikan pembahasan tentang stratifikasi sosial, mengingat sekarang kesenjangan semakin terasa ditengah-tengah kehidupan sosial. Maka mari kita pelajari tentang apa itu stratifikasi sosial dan faktor apa sih yang menyebabkan hal itu muncul. Simak penjelasan di bawah ini ya.


Pengertian Stratifikasi Sosial

Masyarakat pada kenyataannya memberikan penghargaan yang berbeda untuk kelompok individu. Penghargaan ini didasarkan pada kelebihan yang dimiliki oleh individu tersebut. Apa saja kelebihan yang dimaksud? Kelebihannya itu seperti kekuasaan, kekayaan, keturunan atau kehormatan dan pendidikan  yang dimiliki. Oleh karena itu maka muncullah stratifikasi sosial.

Stratifikasi sosial atau yang kita kenal dengan pelapisan sosial ini merupakan pengelompokan atau pembedaan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang dilakukan secara bertingkat. Wujud dari pelapisan ini yaitu kelas sosial. Kelas sosial itu sendiri masih dibagi, yaitu kelas sosial rendah, kelas sosial menengah, dan kelas sosial tinggi.

Mereka yang berada di kelas sosial rendah ini biasa merupakan kelompok masyarakat yang profesinya sebagai buruh dan pedagang kecil. Sedangkan mereka yang masuk kelas menengah ini yaitu peneliti, dosen, mahasiswa, dan pegawai negeri. Lalu siapa yang masuk ke dalam kelas sosial tinggi? Ini diduduki oleh pengusaha atau pejabat. Pengelompokan ini ada di dalam segala bidang kehidupan kita.

Dalam masyarakat yang paling sederhana dan homogen, pembeda peranan dan kedudukan itu relatif sedikit. Akibatnya, stratifikasi sosialnya juga sedikit. Biasanya pelapisan sosialnya didasarkan pada jenis kelamin, senioritas, dan kekuasaan. 

Kemudian, bagaimana pelapisan sosial pada masyarakat modern? Ini biasanya didasarkan pada kriteria pendidikan yang dapat memunculkan beraneka macam keahlian atau profesi. Ada beberapa pekerjaan yang dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya. Ini dapat dilihat dari imbalan yang dia peroleh dari pekerjaannya. Dari sinilah muncul yang namanya prestise sehingga pelapisan sosial menjadi kompleks dan beragam. 

Baca juga: Sosiologi sebagai Ilmu Masyarakat

Sebenarnya apa saja penyebab dari stratifikasi sosial?

Faktor-faktor penyebab munculnya stratifikasi sosial itu, yaitu kemampuan atau kepandaian, fisik, umum, sifat keaslian keanggotaan masyarakat, jenis kelamin, dan harta benda yang dimiliki. Meskipun demikian, faktor penentunya ini berbeda-beda, tidak selalu sama. Ada yang dibedakan berdasarkan kemampuannya untuk bercocok tanam, ini biasanya ada di daerah yang masih banyak masyarakatnya bekerja sebagai petani atau pembuka lahan.

Stratifikasi sosial juga bisa disebabkan oleh subsistem sosial yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan tertentu. Misalkan urutan kepangkatan militer, mulai dari tamtama, bintara, perwira pertama, perwira menengah, sampai pada perwira tinggi.


Dasar Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat

Penghargaan yang lebih menjadi dasar untuk stratifikasi sosial di masyarakat. Ukuran yang digunakan untuk menggolongkan individu pada lapisan tertentu ini bisa jadi ukuran kumulatif dan bukan ukuran tunggal, seperti orang kaya bisa memiliki kekuasaan, pendidikan, dan kehormatan. Adapun dasar stratifikasi sosial dalam masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kekayaan ini berhubungan erat dengan pendapatan individu, semakin banyak pendapatan, maka semakin banyak harta benda yang dimiliki dan semakin besar kesempatan untuk menduduki strata atas. Kriteria umum yang digunakan, seperti mobil mewah, tanah yang luas, dan nilai pajak yang besar.

Kekuasaan berhubungan dengan kemampuan individu untuk menentukan kehendaknya terhadap orang yang dikuasai atau orang lain. Kekuasaan ini bisa juga didukung oleh unsur lain, seperti posisi dalam masyarakat, kepandaian, kekayaan, dan kelicikan.

Keturunan juga bisa menjadi dasar untuk stratifikasi sosial, seperti individu ini merupakan keturunan raja atau bangsawan. Selain keturunan, pendidikan juga bisa menjadi dasar stratifikasi sosial. Masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, akan mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi, seperti dokter, hakim dan atlet.

Selain mempelajari tentang dasar stratifikasi sosial, dalam menentukan lapisan sosial masyarakat untuk mengetahui status atau kedudukan, maka perlu mengetahui apa itu status atau kedudukan.


Status atau Kedudukan

Kedudukan atau status ini penting untuk menunjukkan hak dan kewajiban individu dalam masyarakat di mana dia berada. Cara untuk memperolehnya yaitu:
1. Ascribed status yaitu kedudukan yang didapatkan individu secara otomatis tanpa perlu mengerahkan usahanya atau diperoleh sejak lahir, contoh: gelar bangsawan.
2. Achieved status yaitu kedudukan yang diperoleh individu dari usahanya, contoh dokter, insinyur, dan pengacara.
3. Assigned status yaitu kedudukan yang diperoleh individu dari usaha dan diperoleh secara otomatis, contoh: siswa teladan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat benturan atau pertentangan yang dialami individu kaitannya dengan status sosial yang dimiliki dan ini disebut dengan konflik sosial. Konflik sosial ini ada yang bersifat individual, antarkelompok, dan antarindividu.

Lebih lanjut dalam status atau kedudukan sosial, individu biasanya menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menunjukkan kedudukannya di dalam masyarakat, seperti gaya berpakaian, gaya bicara, dan pola rekreasi. Kemudian, apa saja fungsi dari stratifikasi sosial?


Fungsi Stratifikasi Sosial

1. Penentu tingkat mudah dan susahnya bertukar kedudukan.
2. Sebagai alat solidaritas antara individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama di masyarakat.
3. Penyebaran hak-hak istimewa yang objektif, antara lain wewenang, tingkat kekayaan, dan keselamatan.
4. Sebagai sistem pertanggan pada strata yang berhubungan dengan penghargaan dan kewibawaan. 
5. Untuk menentukan simbol status atau kedudukan individu, seperti bentuk rumah.

Demikian penjelasan tentang hakikat stratifikasi sosial. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian semua yang sedang belajar tentang hakikat stratifikasi sosial.

Daftar Pustaka
Maryati, K dan Suryawati, J. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Jilid 2. Jakarta: Esis.