Kamis, 06 Juli 2017

Penjelasan Teori Pembentukan Lempeng Bumi

Pelajaran click kali ini akan memberikan penjelasan tentang teori pembentukan lempeng bumi. Perhatikan penjelasan di bawah ini. 

Struktur Lapisan Bumi

1. Atmosfer. Merupakan suatu kumpulan gas dan udara yang berwujud lapisan tipis yang menyelubungi permukaan bumi. Di mana 99% kandungan atmosfer ada di 30 km lapisan terbawahnya. Kemudian, di atmosfer ini pula terjadi proses cuaca dan iklim.

2. Litosfer. Merupakan lapisan bumi yang berada di bawah atmosfer. Di mana litosfer ini bersifat keras dan kaku dengan ketebalan 0-70 km. Litosfer ini dibagi menjadi dua lempeng yaitu lempeng benua dan lempeng samudra. 

3. Astenosfer. Merupakan lapisan yang berada di bawah litoser dengan ketebalan 70-2900 km. Astenosfer ini berupa material padat yang memiliki sifat seperti fluida atau labil, yang mudah terpengaruh oleh arus konveksi. Selain itu, astenosfer ini akan bergerak dan menggerakkan lapisan di atas seperti kejadian gempa bumi. 

4. Barisfer. Merupakan lapisan inti bumi yang terdiri dari nikel dan besi. Di mana lapisan ini dibedakan menjadi outer core dan inner core. Outer core ini memiliki ketebalan 2900-4980 km dan merupakan inti bumi bagian luar. Inner core memiliki ketebalan 4980-6370 km dan merupakan inti bumi bagian dalam. 

Teori Pembentukan Lempeng Bumi

Teori Pembentukan Lempeng Bumi

a. Pengapungan benua (continental drift). Dikemukakan oleh Alfred Wegner yang dikemukakan 1910. Wegner menggabungkan fakta dan distribusi fosil untuk memformulasikan teori tentang benua bergerak dipermukaan bumi. 

Wegner menyatakan bahwa sebelum 200 juta tahun yang lalu, semua benua di bumi membentuk satu daratan yang besar dan berat yang dinamakan dengan pangea. 

Prinsip teori ini yaitu benua diposisikan sebagai sebuah lempeng atau batuan dan mengapung disepanjang permukaan bumi setiap waktu. Kelemahan teori ini yaitu benua menggelincir di atas dasar laut, padahal dasar laut tidak cukup kuat untuk menopang suatu benua.


b. Kontraksi dan pemuaian (contraction dan expansion). Di mana penyusutan bumi terjadi disebabkan oleh proses pendinginan. Teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan daerah yang tertekan seperti deretan gunung apo namun tidak dapat menjelaskan cekungan, celah dan lembah. 

Teori ini dikemukakanoleh Descretes dan didukung oleh James Dana dan Elie de Baumant. Lebih lanjut pengembangan bumi terjadi disebabkan oleh proses pemanasan. 

Teori ini diperoleh seteah radioktivitas diketahui. Teori ini dapat menjelaskan tentang benua dapat hancur dan menjelaskan pembentukan lipatan namun belum dapat menjelaskan daerah tekanan.


c. Sea floor spreading. Menjelaskan tentang pergerakan lempeng yang saling menjauh dan tertangkap oleh peneliti. Pergerakan ini kemudian menyebabkan terbentuknya punggungan yang memanjang di daerah yang menjauh. 

Kemudian Vine, Matthews, dan Morely mengumpulkan informasi yang penting. Mereka menemukan bahwa lempeng samudra yang baru terbentuk di antara dua lempeng yang saling menjauh. 

Di mana penyusupan magma antar lempeng ini kemudian menyebabkan adanya punggung laut. Teori ini selanjutnya disebut dengan sea floor spreading. Teori ini menjawab pertanyaan terbesar tentang continental drift tentang bagaiman benua dapat bergerak di atas kerak samudra? 

Kenyataannya benua bergerak bersama dengan kerak samudra sebagai bagian dari sistem litosfer. Fenomena ini disebabkan oleh konveksi arus panas dari mantel di atas bumi atau astenosfer. 


d. Tektonik lempeng. Teori ini dicetuskan oleh Mc.Kenzie dan Robert Parker. Teori ini menjelaskan bahwa litosfer yang padat tersusun dari kerak samudra dan kerak benua dan berada di atas mantel yang terdiri dari beberapa lembar dengan ukuran yang berbeda-beda yang dinamakan dengan lempeng. 

Lempeng memiliki ketebalan 100 km dan 250 km dan mengapung di atas atmosfer. Benua dan samudra dapat melayang karena merupakan bagian dari lempeng besar yang mengapung dan bergerak horizontal di bagian teratas astenosfer. 

Lempeng bersifat padar dan elastis, namun deformasinya nampak sepanjang batas antar lempeng. Kemudian, ada kalanya lempeng samudra ini menyusup kembali ke dalam mantel sebab perbedaan ketebalan dan kepadatan. 

Selain itu, juga peristiwa pelebaran akibat adanya arus konveksi. Peristiwa penyusupan atau pelebaran ini menyebabkan batas antar lempeng (divergen atau menjauh satu sama lain, konvergen atau mendekat satu sama lain, dan transform atau berselisih satu sama lain). 

Batas lempeng ini menyebabkan peristiwa tektonik atau vulaknik yang terjadi di bumi. Kemunculan teori ini menyebabkan ahli geologis menguji kembali setiap aspek geologi. 

Demikian penjelasan tentang teori pembentukan lempeng bumi. Semoga bermanfaat.