Mengenal Unsur Pembangunan Karya Sastra

Apa Saja Unsur Ekstrinsik dan Unsur Intrinsik Karya Sastra?


Pada sebuah karya sastra, terdapat unsur pembangun karya sastra yang terdiri dari unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Unsur ekstrinsik suatu karya sastra yakni unsur pembangun yang berasal dari luar karya sastra.

Unsur intriksik suatu karya sastra berarti unsur pembangun yang berasal dari dalam karya sastra. Unsur intrinsik pembangun karya sastra terdiri dari : tema, alur/ plot, latar/ setting, gaya bahasa, tokoh dan penokohan, sudut pandang pengarang atau point of view.

Agar lebih jelas, berikut keterangan mengenai unsur intrinsik dalam karya sastra :

1.      Tema,

Suatu karya sastra selalu disajikan dengan tema khusus. Tema merupakan gagasan utama yang mendasari suatu cerita atau pokok masalah yang menjadi jiwa dari karya sastra tersebut. Tema karya sastra misalnya tema : remaja, romance, perjuangan, pahlawan, kemerdekaan, kritik sosial, budaya dan lainnya.

2.      Alur/ Plot,

Alur atau plot adalah rangkaian kejadian yang membentuk suatu cerita. Suatu karya sastra tentu terdiri dari rangkaian-rangkaian peristiwa. Alur plot ini umumny terdiri dari :
a)      Pengenalan atau pemaparan
b)      Konflik
c)      Penggawatan atau perumitan
d)     Klimaks
e)      Penyelesaian
Jenis-jenis alur ada beberapa macam yakni :
a)      Alur maju : yakni alurnya menceritakan peristiwa dengan cara beruturan waktunya. Jadi, ceritanya runtut berdasarkan kronologi waktu.
b)      Alur mundur (flashback) : yakni ketika dalam cerita tersebut terdapat penyelaan urutan secara kronologis dengan peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.

3.      Latar/ Setting,

Latar atau seting merupakan waktu dan tempat terjadinya suatu peristiwa yang ada di dalam cerita. Latar atau seting dapat berupa latar waktu dan latar tempat. Misalnya saja untuk latar waktu : sebulan yang lalu, setahun yang akan datang, zaman purba, saat ini. Contoh latar tempat misalnya : di toko, di Kota Bandung, di kolam renang, di teras rumah dan sebagainya.

4.      Gaya Bahasa,

Gaya bahasa adalah cara pemakaian bahasa yang khas dari seorang pengarang. Karena khas, maka gaya ini antara satu pengarang dengan yang lainnya akan berbeda atau tidak ada yang sama. Ada pengarang yang menggunakan gaya bahasa gaul, gaya bahasa dengan selingan humor, gaya bahasa yang serius, gaya bahasa yang formal, gaya bahasa filsuf dan lainnya.

5.      Tokoh dan Penokohan,

Tokoh merupakan pelaku dalam cerita. Di dalam suatu cerita maka akan terdiri dari para tokoh yang berperan dalam cerita tersebut. Terdapat tokoh utama dan ada pula tokoh tambahan atau sampingan.
Sedangkan penokohan disebut juga sebagai perwatakan. Artinya, bagaimana penyajian watak tokoh dalam cerita tersebut. Misalnnya wataknya jujur, dermawan, judes, pelit dan lainnya.
Tokoh dan penokohan ini pun dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yakni :
a)      Tokoh protagonist : tokoh protagonist merupakan tokoh utama atau tokoh sentral dalam cerita. Biasanya, tokoh ini menggambarkan perilaku yang positif.
b)      Tokoh antagonis : tokoh antagonis adalah tokoh yang selalu menentang atau berlawanan dengan tokoh protagonist. Umumnya, tokoh antagonis digambarkan dengan watak yang buruk, meski tidak selalu antagonis memiliki watak negatif.
c)      Tokoh tritagonis : tokoh tritagonis adalah tokoh penengah atau pelengkap yang sering muncul untuk menengahi konflik antara tokoh protagonist dan antagonis.

Temukan Materi Bahasa Indonesia Lainnya Disini

6.      Sudut Pandang Pengarang Atau Point Of View.

Sudah pandang pengarang atau poing of view ini menunjukkan posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Ada beberapa macam sudut pandang pengarang, meliputi :
a)      Sudut pandang orang pertama
Pada sudut pandang orang pertama, cirinya pengarang menggunakan orang pertama sebagai tokoh utamanya dengan penuturan lewat tokoh dengan kata “aku”, “saya”, atau “kami”.
b)      Sudut pandang pengarang orang ketiga
Pada sudut pandang pengarang orang ketiga, pengarang menggunakan orang ketiga sebagai tokoh utamanya yang ditandai dengan penggunaan kata “dia” atau “mereka”.
c)      Sudut pandang pengarang serba tahu
Pada sudut pandang pengarang serba tahu, pengarang menuturkan segalanya, pengarang serba tahu segala peristiwa yang telah, sedang dan akan dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut.

Postingan terkait: