Memutar Ulang Waktu

Resensi Novel Memutar Ulang Waktu

Identitas Buku :

Judul Buku
: Memutar Ulang Waktu
Penulis
: Gabriella Chandra
Tahun terbit
: 2015
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Ukuran
: 13,5 x 20 cm
Jumlah halaman
: 200

Review Isi Buku
Sebuah novel young adult beraliran romansa cinta kembali dipersembahkan oleh Gramedia Pustaka Utama untuk para penggemar novel. Novel ini adalah sebuah karya fiksi menarik yang sebetulnya mengusung tema fantasi.
Seperti judulnya, kisah dalam novel berjudul ‘Memutar Ulang Waktu’ ini memang mengisahkan tentang perjalanan seorang gadis beranjak dewasa yang berkesempatan untuk kembali melintasi waktu.
Dikisahkan, Shella awalnya merupakan seorang wanita karir yang hampir menikah dengan Jonathan. Kehidupan Shella memang berjalan baik. Semuanya lancar. Shella adalah gadis pintar yang selalu menempati jajaran peringkat atas di kelasnya. Karenanya, wajar saja kalau ia pun sukses menempati posisi Customer Service Officer di sebuah bank swasta.
Tapi entah kenapa, Shella merasa tak puas dengan kehidupannya. Ia merasa mampu mendapatkan lebih dari apa yang telah ia dapat sekarang, terutama dalam masalah pasangan.
Awalnya, Shella hanya berandai – andai mendapatkan kekasih yang lebih baik, pengalaman cinta yang lebih baik di masa sekolah, juga kehidupan ekonomi keluarga yang lebih baik. Tentu saja hal ini adalah sebuah perandaian imajinasi yang tak mungkin terjadi. Mana ada orang yang bisa memutar ulang waktu.
Tapi, toh nyatanya Shella bisa mendapatkan kesempatan untuk memutar ulang waktu dari seorang pria tua misterius. Melalui sebuah kilatan cahaya dari kerang kecil yang diberikan si pria misterius itu, Shella pun sukses memutar ulang waktu dan bangun menjadi sosok remaja yang masih SMP.
Karena telah mengetahui kondisi kawan – kawan populer dan cowok tampan di sekolahnya, Shella pun bisa menargetkan cowok – cowok mana yang harus didekati. Ya, ia memang sukses. Kehidupannya perlahan berubah seperti apa yang ia harapkan.
Ya, petuangan baru kehidupan pun dimulai oleh Shella. Hari demi hari dalam kehidupan barunya terlewati dengan cara yang berbeda. Dan tentu saja, juga menghasilkan hidup yang berbeda sama sekali dari kehidupan lama, sebelum ia memutar ulang waktu.
Awalnya memang baik, tapi akhirnya ada rasa sesal yang mencengkeram batin Shella. Jonathan bukan lagi kekasihnya. Dan kehidupan seolah tak lagi ramah dengannya. Hidupnya, sungguh berbeda di hampir segala hal.
Menyesal? Ia tahu kalau konsekuensi akhir dari perbuatannya yang melompati waktu ini harus ia tanggung sendiri, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Meski demikian, ia sadar betul kalau ada yang tidak baik dari kondisi hidupnya yang baru, dan berharap waktu bisa kembali diputar ke hidupnya yang dulu.
Menangisi semua keadaan memilukan ini, keanehan kembali datang menghampirinya. Pria misterius dulu datang lagi, dan meski mengatakan kehidupannya yang dulu tak bisa kembali, tapi toh akhirnya Shella mendapat kejutan juga.
Ia terbangun di kamar, tempat ia terbang ke masa lalu dulu. Ia kembali ke kehidupan lamanya, sebelum ia memutar ulang waktu. Tentu saja ia kegirangan luar biasa dan segera meluapkan kegembiraannya.
Ia pun bergegas menemui orang – orang terkasihnya, dan dengan lugas menegaskan tentang kebahagiannya karena telah mendapatkan cinta dari mereka. Dan seperti itulah cara Shella untuk menyukuri kehidupan dan kasih dari orang yang dimilikinya saat ini.
Memutar Ulang Waktu

Pendapat AP
Kisah yang menarik bukan? Meski kisah fantasi tentang memutar ulang waktu memang bukanlah hal baru, tapi tentu saja ada banyak cara untuk mengemas kisah dibalik misteri waktu ini. Ya, seperti pada kemasan novel ini.
Novel ini menyajikan kisah yang menarik sambil meninggalkan pesan yang sungguh bermakna untuk kehidupan. Dari kisah – kisah seperti inilah, kita diajak untuk dapat mensyukuri nikmat ‘saat ini’.
Apa yang kita peroleh saat ini mungkin memang bukanlah yang terbaik yang kita ingini. Hanya saja, menyesali masa lalu bukanlah hal bijak. Toh merubah masa lalu tak menjamin bahwa kita bisa mendapatkan hal yang lebih baik.
Novel ini berkisah melalui gaya bahasa yang sederhana dan lugas. Gaya bahasa ini membuat para pembacanya bisa memahami isi dari novel dengan lebih mudah. Tapi, bagi para pecinta novel yang gemar berimajinasi dengan kata – kata yang syahdu, sepertinya sulit mendapatkannya dari novel ini.
Bahasa dan alurnya terasa begitu sederhana sehingga mudah untuk ditebak. Seandainya saja alur dan diksi dibuat lebih bervariatif, maka novel ini mungkin akan lebih menarik bagi banyak kalangan pecinta novel. Pembaca pun bisa dibuat melambung emosinya ketika membaca setiap kata dari novelnya. Ya, nampaknya, diksi yang terbatas dan gaya bahasa sederhana membuat emosi pembaca terkadang sulit untuk meluap.
Tapi terlepas dari itu semua, setiap penulis punya gaya bahasanya masing – masing. Tentu saja, novel ini direkomendasikan untuk para pembaca yang ingin tahu kisah – kisah unik dari para petualang waktu. Pembaca tentu bisa menikmati bacaan berharga ini.

Postingan terkait: