Biografi Pol Pot si Pelopor Khmer Merah Kamboja

Mengenal Perjalanan Hidup Pol Pot dalam Menguasai Kamboja


Bagi para penggemar kisah sejarah Asia Tenggara, tentu saja nama Pol Pot bukanlah nama asing. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh dengan catatan pembunuhan yang cukup banyak. Setidaknya, ia telah menjadi penyebab kematian dari satu hingga tiga juta jiwa atau sepertiga populasi dari negara Kamboja. Hmm, sungguh catatan sejarah yang luar biasa bukan?
Catatan pembunuhan Pol Pot yang begitu banyak inilah yang membuat nama Pol Pot jadi topik yang penting dalam perbincangan PBB. Untuk lebih jauh mengenal Pol Pot, mari kita simak biografi Pol Pot yang lebih rinci berikut ini.

Biografi Pol Pot
Pol Pot dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1925 di Prek Sbauv di Provinsi Kampong Thum, Kamboja, atau tepatnya di sebelah utara Phnom Penh. Ayah Pol Pot adalah seorang petani kaya yang keluarganya dipercaya masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Kamboja.
Ketika usianya 6 tahun, ia pindah ke Phnom Penh dan tinggal bersama saudara lelakinya, seorang pejabat istana. Di sana ia belajar pinsip – prinsip dasar agama Budha. Di tahun 1946, ia mulai bekerja untuk organisasi perlawanan anti Perancis di bawah asuah Ho Chi Minh dari Vietnam. Sementara itu, ia pun bergabung dengan partai Komunis Indocina yang terlarang.

Bergabung dengan Partai Komunis Indocina
Sejak remaja, Pol Pot memang menunjukkan ketertarikan terhadap ajaran komunis dan marxis. Pol Pot yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Paris, justru terkenal karena tulisannya tentang Marxisme dan Sosialisme revolusioner. Meski demikian, hal ini pula yang membuatnya gagal untuk mendapatkan gelar sarjana dari pendidikan elektronika radio di Paris.
Selama di Paris, ia pun bergabung dengan Partai komunis Perancis. Selain itu, ia juga bergabung bersama para pemuda Kamboja di Paris membentuk “Kelompok Pelajar Paris”, yang merupakan cikal bakal sebagai menjadi pemimpin – pemimpin Khmer Merah. Mereka adalah Ieng Sary, Khieu Samphan, Khieu Ponnary dan Song Ten. Para pemuda ini secara terang – terangan menantang pemerintah Sihanouk yang merupakan pemimpin Kamboja kala itu.
Ia juga bergabung dengan Partai Komunis Indocina yang merupakan gabungan dari 3 unit terpisah yakni Vietnam, Kamboja dan Laos. Dari tiga unit ini, Vietnam adalah kelompok yang paling mendominasi. Unit Kamboja sendiri disebut sebagai Partai Revolusioner Rakyat Kamboja atau Kampucheun People’s Revolutionary Party (KPRP).

Membentuk Partai Pekerja Kamboja
Tahun 1953, setelah beasiswa pendidikannya dicabut, Pol Pot memutuskan kembali ke Kamboja dan langsung terjun dan bekerja untuk KPRP. Ia sangat rajin dalam mengurusi hal – hal berbau komunis ini. Ia bahkan juga mengadakan perjalanan ke timur negara tersebut untuk berjumpa dengan kaum komunis Vietnam.
Sampai di tahun 1960, Pol Pot dan Kelompok Pelajar Paris sukses mengambil – alih kendali KPRP dan kemudian mengganti namanya menjadi Partai pekerja Kamboja atau Workers’ Party Kampuchea (WPK). Dengan WPK ini, ia pun membuang segala sendi Vietnam. Ia memang tak terlalu suka didekte oleh Vietnam dan lebih gemar dengan kekuasaannya sendiri.
Dalam partai ini, Pol Pot terpilih sebagai pejabat ketiga dalam Komite Pusat Partai. Posisi ini memberinya kesempatan untuk membangun fraksi yang kuat. Prestasi Pol Pot pun semakin cemerlang ketika di bulan Februari 1963, ia terpilih sebagai sekretaris Jendral WPK, yang merupakan posisi tertinggi dalam partai tersebut.
Pol Pot

Pelopor Khmer Merah
Pol Pot semakin tenar dan bahkan mendapatkan sambutan yang baik ketika ia berkunjung ke China. Pol Pot yang mulai mendapatkan pengaruh dari ajaran Mao Zedong akhirnya memutuskan untuk melepaskan diri dari ikatan kaum komunis Vietnam. Ia pun kembali mengganti WPK menjadi Partai Komunis Kamboja atau Kampuchean Communist Party (KCP), yang kemudian lebih dikenal sebagai Khmer Merah.
Dengan tangan Khmer Merah, Pol Pot bergerak untuk menguasai Kamboja. Ia melakukan pemberontakan dan kerusuhan di berbagai daerah di Kamboja. Sampai tahun 1968, setidaknya Khmer Merah telah membuat kerusuhan di 11 provinsi dari 18 provinsi di Kamboja.
Bahkan, sampai akhir dekade tersebut, Khmer Merah telah hampir mengambil – alih seluruh wilayah Pegunungan di Perbatasan dengan Vietnam. Khmer Merah bahkan sukses mendirikan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kamboja di bulan Januari. Ia mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat untuk dapat melakukan serangkaian serangan militer kecil – kecilan.

Penaklukan Kamboja
Amerika Serikat yang mulai turut campur dalam urusan Kamboja melancarkan serangan – serangan bom yang menghabisi ratusan ribu rakyat Kamboja. Sayangnya, berondongan bom yang dilakukan oleh CIA terhadap Kamboja ini bukan hasil kerja sama dengan Khmer Merah.
Serangan AS semakin membabi buta. Dalam 14 bulan saja, ada sekitar 110.000 ton bom yang dijatuhkan di tanah Kamboja. Serangan Amerika Serikat ini akhirnya membuat Sihanouk, pemimpin pemerintahan Kamboja saat itu harus mengasingkan diri ke Cina.
Sementara Sihanouk digulingkan, pemerintahan diambil alih oleh Lon Nol. Lon Nol melakukan kudeta dan meresmikan dirinya sebagai Perdana Menteri Republik Khmer yang baru dengan dukungan dari CIA, AS.
Dalam pengasingannya, Sihanouk pun membentuk sebuah pemerintahan dan membangun aliansi dengan Khmer Merah. Dengan bantuan militer dari Vietnam Utara dan Cina, Khmer Merah kemudian melakukan gerilya untuk menguasai kembali Kamboja. Gerilya ini membuahkan hasil dengan penguasaan di daerah –daerah di sebelah Selatan dan tenggara negara Kamboja.
Sampai tahun 1973, Khmer Merah akhirnya dapat memerdekakan diri dan berhasil menyerang tentara Republik Khmer, mengambil alih kendali 60 % teritori Kamboja dan 25 % penduduknya. Khmer Merah pun mengendalikan sebagian besar pedesaan Kamboja dan menampung serta mengisolasi Phnom Penh.

Program “Tahun Nol”
Pada tanggal 17 April 1975, Phnom Penh jatuh. Di hari itulah, seluruh penduduk yang berjumlah lebih dari 2 juta jiwa yang tengah mengisolasi diri sekaligus mengungsi karena menghindari bom – bom AS, digiring menuju pedesaan dengan todongan senjata.
Pol Pot mendeklarasikan ‘Tahun Nol’ sebagai sebuah program kerja yang kejam denga tujuan ‘memurnikan’ keadaan sosial Kamboja dari kapitalisme, budaya barat, agama dan semua pengaruh asing dalam rangka pengisolasian dan benar – benar mendirikan negara agrarian Maoist yang mencukupi kebutuhan negerinya sendiri.
Dalam program ‘Tahun Nol’ ini, tidak ada lawan yang diberi toleransi. Semua orang asing diusir, kantor – kantor ditutup, peredaran uang dihapuskan, serta pasar, sekolah, surat kabar, praktisi agam dan juga kepemilikan pribadi pun dilarang.
Seluruh anggota pemerintahan Lon Nol, pegawai Negeri, anggota polisi, pejabat militer, guru – guru, etnik Vietnam, pendeta, pastor Kristen, pemimpin Islam, anggota kelompok minoritas Islam Cham, anggota keluarga kelas menengah dan berpendidikan, semua diidentifikas kemudian dibunuh.

Indoktrinasi Politik Pol Pot
Seluruh penduduk negara Kamboja akhirnya dipaksa untuk menempati daerah – daerah pertanian, yang kemudian dikenal dengan “Killing Field”. Disebut sebagai daerah Killing Field karena memang pada akhirnya, banyak dari mereka yang mati.
Para penghuni rumah sajit hidup dalam keadaan menyedihkan. Para bhiksu Budha dilepaskan dari jabatan Pendeta lalu dipaksa untuk bergabung dengan brigade buruh. Rumah – rumah besar di kota – kota besar digunakan sebagai tempat indoktrinasi politik yang tiada berkesudahan. Anak – anak pun tak lupa diasupi dengan semangat untuk memata – matai para orang dewasa.
Setidaknya, diperkirakan 1,5 juta jiwa yang diperkerjakan ini menderita sampai mati. Ada yang mati karena kedinginan, karena sakit dan tak sedikit pula yang mati karena dieksekusi langsung karena pelanggaran terhadap disiplin kamp.
Khmer Merah juga merekam interogasi Tuol Slend dan pusat penahanan di Phnom Penh yang memperlihatkan bahwa 14.499 ‘elemen – elemen anti partai’, ternasuk pria, wanita dan anak – anak disiksa dan dieksekusi mati dari tahun 1975 sampai 6 bulan pertama di tahun 1978.
Masa kekuasaan Pol Pot yang penuh dengan terror ini mencapai puncaknya di tahun 1977 dan 1978 ketika Pol Pot lagi – lagi meluncurkan sebuah program kerja kejam berupa pembersihan berdarah kepada musuh – musuh terselubung, dan yang menyembunyikan mereka, serta kader – kader Khmer Merah sendiri yang menangani pembersihan berdarah tersebut. Dalam pembersihan tahun 1976 ini, paling tidak ada 200.000 jiwa dieksekusi mati.
Di tanggal 5 Januari 1977, Khmer Merah mendeklarasikan negara baru kamboja Demokrat. Sihanouk mengundurkan diri sebagai kepala negara pada tanggal 2 April dan ia pun kemudian ditahan dalam tahanan rumah di Phnom Penh. Selanjutnya, Pol Pot diangkat menjadi Perdana Menteri.

Kekurangan Pangan di Kamboja
Meski hampir semua populasi Kamboja berproduksi tanaman pangan, tapi Kamboja tetap saja kekurangan pangan. Banyaknya kematian karena kelaparan pun membuat Pol Pot memutuskan untuk bertandang ke Cina yang menjanjikan bantuan. Selain bantuan pangan, Pol Pot juga mendapat bantuan militer untuk mengatasi konflik antara Kamboja dan Vietnam.
Sementara itu, Vietnam juga menyiapkan gerakan anti – Pol Pot yang diwadahi dengan Front Persatuan Ansional untuk Penyelamatan Nasional atau Kampuchea National United Front for National Salvation dan berusaha menyerang Khmer Merah.
Tanggal 25 Desember 1978, Vietnam melancarkan invasi militer berskala besar terhadap Kamboja dan sukses menyingkirkan Khmer Merah. Phnom Penh ditahan pada 7 Januari 1979. Pol Pot dan Khmer Merah yang kalah pun munudur ke daerah – daerah barat negara tersebut.

Berakhirnya kekuasaan Pol Pot
Selanjutnya, Pol Pot bersama Khmer Merah terus melancarkan gerilya secara acak yang berlangsung sampai 20 tahun berikutnya. Di tahun 1985, Pol Pot secara resmi mengundurkan diri sebagai komandan pasukan militer Khmer Merah. Meski suasana Kamboja sudah mulai tertata, tapi Pol Pot terus saja bersembunyi dan tetap melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan.
Di tahun 1998, di suatu sore tanggal 15 April, Pol Pot meninggal dunia karena serangan jantung. Meski demikian, sebab musabab kematian Pol Pot yang sebenarnya masih tanda tanya.

Postingan terkait: