Mohammad Hatta – Biografi Singkat 1902 - 1980

Identitas Buku :
Judul Buku
: Mohammad Hatta – Biografi Singkat 1902 - 1980
Penulis
: Salman Alfarizi
Tahun terbit
: 2009
Penerbit
: Garasi, Jogjakarta
Ukuran
: 14 x 20,6 cm
Jumlah halaman
: 242
Mohammad Hatta – Biografi Singkat 1902 - 1980
Review Isi Buku
Buku Mohammad Hatta – Biografi Singkat 1902 – 1980 menuliskan riwayat biografi singkat dari Mohammad Hatta yang merupakan salah satu Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Layaknya sebuah biografi pada umumnya, buku ini diawali dengan kisah masa muda Mohammad Hatta yang lahir pada 12 Agustus 1902. Diceritakan pula mengenai bagaimana Hatta mulai memupuk kesadaran politiknya. Hatta muda gemar mengikuti ceramah-ceramah atau pun pertemuan politik. Karir pergerakan politiknya pun sudah dimulai sejak ia menimba sekolah tinggi di Belanda tahun 1921. Namun, pergerakan masa muda Hatta tidak banyak diceritakan disini.
Buku ini lebih banyak menceritakan tentang perjuangan Hatta untuk merebut kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Pemikiran Hatta lah yang paling banyak disorot. Sosok yang cinta terhadap buku dan ilmu pengetahuan ini sangatlah cerdas. Ia berpikiran maju dan selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya. Hatta adalah seorang yang berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya, meskipun ia harus bersitegang dengan Sukarno, kawan seperjuangan dan sahabatnya sendiri.
Hatta adalah seorang pemikir ekonomi dengan wawasan yang begitu luas dan bahkan pernah menyaksikan sendiri bagaimana tatanan sosial di kawasan Eropa mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Ia adalah pelopor terbentuknya koperasi di Indonesia. Ia juga yang menyumbang pemikiran tentang konsep hubungan luar negeri Indonesia yang harus bebas dan aktif.
Sayangnya, banyak diantara pemikiran Hatta yang kontras dengan pemikiran Sukarno. Kontra pemikiran ini telah terjadi bahkan saat masa perjuangan kemerdekaan. Mereka berbeda pemikiran tentang cara perjuangan, prinsip ekonomi, politik, bentuk negara Indonesia yang seharusnya, bahkan tentang cara memandang revolusi. Benturan pemikiran yang berlangsung panjang inilah yang membuat hubungan antara dwitunggal Sukarno-Hatta putus.
Hatta mundur sebagai wakil presiden di tahun 1956 dan membiarkan kursi wakil presiden kosong. Setelah mundur, Hatta menjadi rakyat biasa yang setia mengkritisi kebijakan pemerintahan Sukarno. Hatta memang begitu mencintai Indonesia. Ia mundur bukan karena lelah untuk mengiringi kemajuan bangsanya, melainkan untuk memberikan ruang bagi Sukarno dalam menjalankan kebijakannya tanpa harus ada konflik.
Pendapat AP
Buku ini menyimpan informasi yang banyak dan terhitung mendetail. Kejadian-kejadian dilengkapi dengan keterangan waktu yang terperinci. Bahkan seringkali pula disertai rincian percakapan dan juga uraian pemikiran atau cara pandang Hatta. Hal ini menjadi menarik karena dapat membuka wawasan kita selain tentang bagaimana sosok Hatta, tetapi juga tentang bagaimana suatu negara itu menjadi ideal. Bahasa yang digunakan pun mengalir dan terhitung mudah dipahami.
Meski demikian, tatanan penulisan bab yang tidak runtut seringkali membuat pembaca bingung. Bab yang satu dengan yang lainnya seperti terlepas. Apalagi dari awal hingga akhir, tidak ada runtutan waktu yang tegas. Sistematika penulisan bab yang sering tertumpuk ini membuat pembahasan di dalamnya pun jadi tumpang tindih. Satu informasi yang telah dijelaskan di satu bab, seringkali muncul di bab lain atau penjelasan rincinya baru muncul di bab-bab lain secara terpisah. Hal ini menuntut pembaca agar bisa memetakan sendiri pola pikir dan runtutan kejadian dari kisah biografi Mohammad Hatta.

Postingan terkait: